Serba Serbi . 25/07/2026, 18:30 WIB
Penulis : Dimas Satriyo Nugro | Editor : Dimas Satriyo Nugro
Fin.co.id, Hiburan - Jalanan ibu kota Jakarta sering kali menjadi panggung drama yang menguras emosi. Di balik gemerlap gedung
bentangan langit dan deretan mobil mewah yang melintas, ada garis putih di aspal yang sering diabaikan, namun menyimpan hak hidup bagi pejalan kaki.
Drama terbaru di kawasan Bundaran HI antara seorang petugas keamanan proyek MRT dan pengemudi mobil mewah Toyota Alphard, menjadi pengingat pedas bagi kita semua tentang pentingnya etika, rasa hormat, dan kerendahan hati di ruang publik.
Persoalan ini bermula ketika Victor Harefa, seorang satpam yang sedang bertugas menjaga keselamatan pejalan kaki di pelican cross Halte Transjakarta Bundaran HI. Dengan berani, ia menegur sebuah mobil Alphard hitam yang nekat menerobos lampu merah saat membelokkan warga di seberang.
Tak terima kaca mobilnya diketuk sebagai bentuk peringatan, pengemudi dan penumpang mobil tersebut turun hingga terjadi adu mulut hebat.
Kejadian yang berlanjut hingga ke pos polisi ini sempat viral di media sosial, memicu gelombang simpati masyarakat setelah sang satpam melaporkan sempat terpojok hingga bersujud maaf meminta di bawah tekanan intimidasi.
Kabar baik, mediasi panjang yang difasilitasi oleh Polsek Metro Menteng akhirnya membuahkan hasil. Hari ini, kedua pihak resmi menyatakan setuju untuk berdamai secara kekeluargaan dan saling memaafkan. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, bahkan turun tangan langsung memberikan jaminan bahwa Victor tidak akan kehilangan pekerjaannya akibat kejadian tersebut.
Namun, dibalik kata damai yang telah disepakati, ada argumen mendalam tentang budaya berlalu lintas kita yang tersentil. Kasus ini membuka mata publik bahwa masih banyak pengendara yang seolah-olah "lupa" akan fungsi dasar zebra cross dan lampu merah.
Memiliki kendaraan mewah atau jabatan sosial yang tinggi tidak serta-merta memberikan hak istimewa untuk mengabaikan hukum dan batasan petugas yang sedang menjalankan kewajiban demi keselamatan orang banyak. Sikap arogansi di jalan raya hanyalah cerminan dari ego yang gagal diredam.
Setiap peristiwa di jalanan Jakarta selalu menyisakan pelajaran berharga. Melalui akhir yang damai dari kasus ini, kita diajak untuk memikirkan kembali bahwa jalan raya adalah milik
PT.Portal Indonesia Media
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id