fin.co.id - Aksi solidaritas untuk korban bencana alam di Sumatera menggema di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Lebih dari 100 musisi lintas genre berkumpul.
Salah satu sosok yang paling menyita perhatian adalah musisi senior Viky Sianipar, sosok musisi yang selama ini fokus mengembangkan musik Batak.
Kehadiran Viky bukan sekadar tampil di atas panggung solidaritas, ia baru saja kembali dari wilayah terdampak bencana di Sumatera Utara.
Pengalaman langsung di lapangan membuatnya tak bisa menyembunyikan rasa haru sekaligus amarah, terlebih Sumatera termasuk kampung halamannya.
Viky menyambangi sejumlah daerah seperti Tarutung hingga Barus, ia mengungkapkan warga di sana sempat terisolasi selama hampir satu pekan.
"Macem-macem lah, ada yang ngumpulin bantuan juga ke lokasi. Baru kemarin, ini baru banget pulang. Parah banget kondisinya, gila,"
Akses komunikasi terputus, bantuan terlambat, dan masyarakat harus bertahan dalam kondisi serba terbatas.
Namun yang paling membuat Viky Sianipar prihatin adalah soal distribusi bantuan, ia menilai banyak bantuan logistik tidak tepat sasaran.
Mie instan menumpuk, sementara warga kehilangan rumah, peralatan dapur, bahkan alat masak sederhana.
"Yang mau bantu banyak, tapi semuanya seragam ngasih makanan, ngasih Indomie. Mau masak di mana? Enggak ada panci, enggak ada apa," jelasnya.
"Iya, jadi kayaknya bantuan juga gak terkoordinir. Pokoknya super chaos lah, chaos banget parah," tambahnya.
Bagi Viky Sianipar, bencana ini bukan sekadar musibah alam, ia melihat adanya campur tangan manusia yang memperparah situasi
Kerusakan lingkungan dan eksploitasi alam, menurutnya, menjadi faktor yang tak bisa diabaikan.
"Sangat lah, sangat lah (emosional). Karena kan ini apa ya, lebih ke akibatnya gitu lho. Ini bencana, hujannya hujan normal gitu lho, kondisi tanahnya tidak normal," ucapnya.
"Akhirnya yang tidak berdosa jadi korban gitu lho, dari keserakahan ini. Ngeri banget," sambungnya.