Horor Komedi Pecah! 'Sebelum Dijemput Nenek' Siap Teror Bioskop 22 Januari, Suster Ngesot Bisa Lari Bikin FOMO!

entertainment.fin.co.id - 21/01/2026, 12:03 WIB

Horor Komedi Pecah! 'Sebelum Dijemput Nenek' Siap Teror Bioskop 22 Januari, Suster Ngesot Bisa Lari Bikin FOMO!

Film horor komedi "Sebelum Dijemput Nenek" tayang 22 Januari! Suster Ngesot bisa lari & reuni hantu Rapi Films siap bikin kaget sekaligus ngakak!

fin.co.id - Siapkan nyali dan selera humormu! Jagat sinema horor Indonesia kembali guncang lewat rilisnya film horor komedi terbaru bertajuk "Sebelum Dijemput Nenek". Mulai Kamis, 22 Januari, Rapi Films siap membawa kamu ke dalam pusaran teror yang tidak biasa. Bukan sekadar menakut-nakuti, film ini menghadirkan kolaborasi epik alias mix universe dari ikon makhluk halus legendaris yang pernah menghiasi layar lebar kita selama puluhan tahun!

Disutradarai oleh Fajar Martha Santosa, film ini tidak akan membiarkan penonton duduk tenang dengan skenario yang monoton. Penonton bakal bertemu kembali dengan jin Ummu Sibyan dan Bu Woro yang menyeramkan dari jagat "Waktu Maghrib" (2023). Bahkan, entitas gaib dari "Pengabdi Setan 2: Communion" seperti pocong dan kuntilanak juga turut menampakkan diri. Tapi, juara utamanya adalah modifikasi karakter Suster Ngesot yang ternyata bisa lari kencang! Bayangkan kagetnya seisi bioskop saat melihat hantu ikonik ini tidak lagi ngesot, melainkan mengejar mangsanya dengan kecepatan penuh.

Mitos Angka Setan 666 dan Petaka Dina Geblag

Cerita bermula saat Hestu (Angga Yunanda) mendapat kabar duka bahwa neneknya, Mbah Marsiyem (Sri Isworowati), wafat pada Jumat, 6 Juni, pukul 6 sore. Waktu kematian yang membentuk angka 666 ini dipercaya memicu mitos mengerikan: arwah sang nenek tidak akan pergi ke alam baka sendirian. Hestu dan saudara kembarnya, Akbar (Dodit Mulyanto), terjebak dalam petaka besar.

Advertisement

Mereka hanya punya waktu tujuh hari menuju "Dina Geblag" atau peringatan hari kematian untuk mencari tumbal pengganti. Jika gagal, sang nenek akan mengajak salah satu dari mereka ikut ke liang lahat. Suasana makin mencekam saat arwah Mbah Marsiyem benar-benar muncul lirih di telinga Hestu sambil berucap sinis.

"Temani mbah, ya," bisik Mbah Marsiyem dengan suara yang bikin bulu kuduk berdiri.

Kriteria Tumbal Nekat dan Kritik Sosial Pedas

Dalam kondisi panik, Hestu dan Akbar menyusun rencana gila untuk menumbalkan orang lain. Mereka menetapkan tiga kriteria calon tumbal: lansia yang hidup sendiri, orang sakit berat dengan dalih mengurangi penderitaan, hingga sampah masyarakat yang sering mengganggu warga desa. Di sinilah komedi dan kritik sosial beradu tajam.

Ada juga karakter Nisa (Wavi Zihan) yang mewakili fenomena haus validasi internet zaman sekarang. Alih-alih lari saat melihat setan, ia justru sibuk merekam demi konten meski nyawanya terancam. Karakter ini didesain khusus untuk memberikan efek "menonjok" bagi kaum pamer konten di media sosial.

Kolaborasi Stand-Up Comedian Paling Segar

Kekuatan komedi film ini terasa sangat organik berkat tangan dingin Erwin Wu dan Benidictus Siregar sebagai konsultan komedi. Mereka meracik timing banyolan tanpa merusak suasana horor. Kehadiran aktor-aktor dari dunia stand-up comedy seperti Nopek Novian yang berperan sebagai dukun Ki Mangun, serta Oki Rengga sebagai Kotrek si jagoan kampung, menjamin tawa penonton meledak.

Advertisement
"Peran Beni dan Erwin terasa seperti comedy buddy bagi saya," ungkap Dodit Mulyanto mengenai kolaborasi materi komedi di balik layar.

Nopek Novian pun mengaku berani menampilkan koreografi dukun yang ngawur setelah riset dari berbagai referensi. Kekacauan memuncak saat Ki Mangun salah memberikan mantra: bukannya mantra pengusir arwah, ia malah memberikan mantra pemanggil yang mengancam seluruh desa!

Sigit Nugroho
Sigit Nugroho
Penulis

Pemimpin Redaksi FIN.CO.ID

-->