fin.co.id - Buku "Broken Strings" karya Aurelie Moeremans mengungkap sisi kelam *child grooming* yang dialaminya, memicu desakan publik untuk perlindungan anak yang lebih kuat di Indonesia.
Intisari :
- Aurelie Moeremans berani membongkar praktik *child grooming* yang dialaminya di masa remaja.
- Kasus ini menyoroti pentingnya perlindungan anak dan kelemahan sistem pengaduan korban.
- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong pendekatan berbasis trauma dalam layanan pengaduan.
Aktris Aurelie Moeremans membuat gebrakan publik dengan merilis buku "Broken Strings".
Di dalamnya, ia dengan berani menguak pengalaman pahit *child grooming* yang ia alami saat remaja.
Kisah yang begitu personal ini seketika menjadi bola salju diskusi panas di tengah masyarakat.
Fokus utamanya kini tertuju pada perlindungan anak yang dinilai masih memiliki banyak celah di Indonesia.
Publik bertanya-tanya, mengapa Aurelie baru bersuara sekarang setelah bertahun-tahun lamanya?
Jawaban mengejutkan datang, ternyata berkaitan erat dengan teknik manipulasi pelaku yang sangat licin dan sulit dideteksi.
Manipulasi Pelaku Child Grooming yang Licin
Fenomena ini menarik perhatian penuh dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Dian Sasmita, seorang Komisioner KPAI, menjelaskan modus operandi para pelaku *child grooming*.
Menurut Dian, pelaku seringkali membungkus aksi keji mereka dengan manipulasi yang sangat sistematis.
Teknik manipulasi ini begitu lihai, sampai-sampai korban, bahkan orang dewasa di sekitarnya, tidak menyadari bahwa mereka sedang terjerat dalam lingkaran kekerasan yang mengerikan.
Ini menunjukkan betapa berbahayanya pola pikir yang sengaja dibentuk oleh pelaku untuk mengelabui.