Film n Musik . 06/07/2026, 14:04 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa lagu ini mampu menangkap realitas sosial yang sedang dialami banyak orang.
Bahasa Puitis yang Menjadi Kekuatan Che Cupumanik
Kolaborasi ini juga memperlihatkan sensitivitas Che Cupumanik dalam memilih bahasa.
Ali Hamzah sempat membandingkan pendekatan lirik yang mungkin ia gunakan dengan pilihan kata milik Che.
Sebagai seseorang yang memiliki latar teknis, Ali mengaku kemungkinan akan menggunakan frasa seperti we break beneath the code untuk menggambarkan hubungan manusia dengan teknologi.
Namun Che memilih kalimat sederhana namun jauh lebih kuat secara emosional:
Terjebak dalam algoritma.
Menurut Ali, pilihan kata tersebut terasa lebih puitis, lebih membumi, sekaligus langsung menggambarkan realitas kehidupan masyarakat digital saat ini.
Tiga Kali Berubah Demi Emosi yang Tepat
LUKA KOLEKTIF juga mengalami proses penyempurnaan yang tidak singkat.
Selama produksi berlangsung, lagu ini mengalami tiga kali perubahan struktur dan aransemen demi menemukan keseimbangan antara nuansa mellow, kekuatan lirik, dan perjalanan emosinya.
Setiap perubahan dilakukan agar pesan lagu dapat tersampaikan secara lebih utuh kepada pendengar.
Di balik proses yang serius tersebut, suasana studio juga dipenuhi berbagai momen spontan.
Salah satunya ketika Che tiba-tiba datang ke studio mengenakan perlengkapan padel lengkap.
Melihat penampilannya, Ali dan Adi langsung berseloroh, "Ini mau rekaman atau mau cari energi ekstra dari padel dulu?"
PT.Portal Indonesia Media
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id